Pemkab Barito Utara Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pengembangan Bawang Merah, Padi dan Jagung
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Dinas Pertanian Barito Utara Adi Haryadi, (Foto: Apreza Khadafi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MUARA TEWEH – Pemerintah Kabupaten Barito Utara melalui Dinas Pertanian terus mendorong pengembangan sektor pertanian dengan fokus pada komoditas bawang merah, padi, dan jagung sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menekan laju inflasi bahan pokok, Kamis (30/4/2026).
Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Adi Haryadi, menjelaskan bahwa bawang merah menjadi salah satu perhatian utama karena komoditas tersebut sangat berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga masyarakat dan menjadi salah satu penyumbang inflasi ketika harga mengalami kenaikan.
“Yang paling terasa di masyarakat itu adalah bawang. Inflasi seringkali berawal dari kenaikan harga bahan pokok seperti bawang merah. Karena itu kita ingin memulai dari ketahanan pangan daerah sendiri,” ujar Adi Haryadi
Menurutnya, program pengembangan bawang merah tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga membuka peluang komersialisasi bibit bawang merah unggulan yang dapat bersaing di pasaran.
Bibit bawang merah yang akan digunakan berasal dari sentra produksi unggulan seperti Nganjuk, Jawa Timur. Meski kondisi tanah Barito Utara berbeda jauh dengan Nganjuk yang memiliki tanah hitam subur, pihaknya tetap optimistis bawang merah dapat tumbuh dengan baik melalui teknik budidaya yang tepat.
“Yang paling penting bukan hanya jenis tanah, tetapi bagaimana teknik perlakuannya, pengairannya, dan cara budidayanya. Daerah lain seperti Riau dan Kalimantan Timur juga bisa berhasil,” jelasnya.
Untuk tahap awal, program ini akan dilakukan melalui demplot percontohan terlebih dahulu. Jika berhasil, pengembangan akan diperluas ke kecamatan-kecamatan lain secara bertahap, minimal satu hektare per wilayah.
“Kalau berhasil, ke depan kita bisa kembangkan lagi ke beberapa kecamatan. Jadi dilakukan bertahap, tidak sekaligus,” tambahnya.
Selain bawang merah, pemerintah daerah juga fokus pada hilirisasi komoditas padi agar hasil panen tidak hanya berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat diolah hingga memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Proses pengolahan padi dinilai perlu diperhatikan secara menyeluruh, mulai dari pengeringan gabah, pemecahan bulir padi, hingga menjadi beras siap konsumsi baik kategori medium maupun premium.
“Jadi bukan hanya sampai panen, tetapi sampai packing dan pengemasannya juga harus dipikirkan. Dari pengeringan, pemecahan bulir padi, hingga pengolahannya menjadi beras premium atau medium itu yang harus kita siapkan,” ungkap Adi Haryadi.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, pihaknya juga telah melakukan kunjungan langsung ke pabrik pengolahan padi guna mempelajari proses produksi secara menyeluruh. Padi sawah dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan di Barito Utara.
Sementara itu, komoditas jagung juga masuk dalam rencana pengembangan hilirisasi. Namun, jagung dinilai memerlukan kajian lebih mendalam karena pengolahannya tidak hanya sampai hasil panen, tetapi juga dapat diarahkan menjadi tepung maupun pakan ternak berbentuk pelet.
Menurut Adi, pengembangan jagung memerlukan studi kelayakan yang matang, termasuk terkait bahan baku, kandungan nutrisi, hingga peluang pasar agar program dapat berjalan berkelanjutan.
Pemerintah daerah menilai bahwa bawang merah dan padi menjadi komoditas yang paling realistis untuk dikejar dalam waktu dekat, sementara jagung membutuhkan perencanaan lebih mendalam agar hasilnya optimal.
Melalui langkah ini, Pemkab Barito Utara berharap sektor pertanian mampu menjadi penopang utama ketahanan pangan daerah, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal. (eza)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar